Takut Nulis Jurnal? Ini Alasan Kamu Salah Besar

Ilustrasi: Abdussalam / AI-Generated (ChatGPT)



Oleh :  Abdussalam, S.Kom., M.M.

Dosen Lektor — STMIK Indonesia Banda Aceh Peneliti Manajemen & Sistem Informasi | Praktisi Transformasi Digital UMKM

Baik. Saya akan bicara jujur.

Setiap awal semester, saya selalu mendapat pertanyaan yang sama dari mahasiswa — dan yang lebih menggelikan, dari beberapa rekan dosen juga. Pertanyaannya kira-kira begini: "Pak, susah nggak sih nulis jurnal? Jurnal itu sebenarnya buat apa sih?"

Dan setiap kali saya mendengar pertanyaan itu, saya harus menahan diri untuk tidak menjawab dengan pertanyaan balik yang lebih pedas: "Kamu sudah berapa tahun kuliah? Sudah berapa kali duduk di kelas metodologi penelitian? Dan kamu masih tanya jurnal itu buat apa?"

Tapi saya tahan. Karena saya tahu masalahnya bukan pada mahasiswanya. Masalahnya pada cara kita — para dosen, para pengelola kampus, para pembuat kebijakan — yang selama ini membangun tembok ketakutan di sekitar jurnal ilmiah, lalu heran kenapa orang-orang takut mendekat.

Jadi hari ini, izinkan saya membongkar tembok itu. Satu per satu.

Tembok Pertama: "Jurnal Itu Susah"

Tidak. Jurnal itu tidak susah. Yang susah adalah kebiasaan berpikir sistematis — dan itu bukan masalah jurnal, itu masalah pendidikan dasar yang seharusnya sudah dibangun sejak bangku sekolah.

Saya mulai menulis untuk jurnal ilmiah bukan karena saya jenius. Saya mulai karena saya punya pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh buku teks mana pun. Ketika saya meneliti pengendalian persediaan bahan baku di perusahaan konveksi kecil di Banda Aceh menggunakan metode Min-Max Stock, saya tidak sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Saya hanya sedang mendokumentasikan solusi atas masalah nyata yang saya temui di lapangan, dengan cara yang terstruktur dan bisa diverifikasi oleh orang lain.

Itu saja. Tidak lebih.

Kalau kamu punya masalah nyata, punya data, dan punya kemampuan untuk menyusun argumen secara logis — kamu sudah punya 80% dari apa yang dibutuhkan untuk menulis artikel jurnal. Sisanya adalah teknis yang bisa dipelajari dalam hitungan minggu, bukan tahun.

Ini bukan klaim kosong. Data SINTA Kemdiktisaintek per Mei 2026 mencatat 331.407 penulis terdaftar dari 5.543 institusi di seluruh Indonesia. Mereka bukan orang-orang luar biasa yang lahir dengan bakat menulis ilmiah. Mereka adalah orang-orang biasa yang pada satu titik dalam hidupnya memutuskan untuk mulai — dan tidak berhenti setelah mulai.

Yang membuat jurnal terasa susah adalah karena kita terlalu lama membangun mitologi di sekitarnya. Berhentilah memelihara mitos itu.

Tembok Kedua: "Jurnal Itu Cuma Buat Dosen"

Ini yang paling sering saya dengar dari mahasiswa. Dan ini yang paling cepat saya bantah.

Tahun 2024, saya menerbitkan penelitian tentang transformasi digital UMKM Indonesia di era industri 5.0 dengan studi kasus di Kota Banda Aceh. Artikel itu disitasi 48 kali dalam waktu singkat — bukan oleh dosen-dosen senior yang duduk di menara gading, tetapi oleh peneliti muda, mahasiswa pascasarjana, bahkan praktisi yang sedang merancang program pemberdayaan UMKM di lapangan.

Artinya apa? Artinya pengetahuan yang saya hasilkan dari wawancara langsung dengan pelaku UMKM di Banda Aceh sudah masuk ke dalam keputusan-keputusan nyata yang dibuat oleh orang-orang nyata di tempat-tempat nyata. Itu bukan pencapaian akademik abstrak. Itu dampak konkret yang bisa diukur.

Dan ini bukan fenomena yang terisolasi. Dari 5,22 juta artikel yang terindeks di GARUDA per Mei 2026, sebagian besar ditulis oleh peneliti yang memulai perjalanan publikasinya justru ketika masih berstatus mahasiswa. Mahasiswa yang menulis jurnal bukan sedang melakukan sesuatu yang "terlalu tinggi" untuk levelnya. Mereka sedang melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian normal dari pendidikan tinggi — mendokumentasikan apa yang mereka pelajari, apa yang mereka temukan, dan apa yang mereka pertanyakan.

Kamu punya akses ke lapangan yang sama. Punya mata yang sama. Punya kemampuan untuk mengamati, mencatat, dan menganalisis yang sama. Satu-satunya yang berbeda adalah kamu belum memulai.

Jadi mulailah.

Tembok Ketiga: "Nanti Ditolak, Malu"

Ini favorit saya. Karena ini yang paling jujur sekaligus paling tidak masuk akal.

Ya. Artikel kamu mungkin akan ditolak. Artikel saya juga pernah ditolak. Artikel hampir semua peneliti yang pernah menerbitkan sesuatu yang berarti pernah ditolak — termasuk beberapa artikel yang kemudian menjadi salah satu karya paling berpengaruh di bidangnya. Penolakan bukan tanda bahwa kamu tidak kompeten. Penolakan adalah tanda bahwa proses peer review sedang bekerja sebagaimana mestinya.

Yang seharusnya kamu malu bukan karena ditolak. Yang seharusnya kamu malu adalah kalau kamu tidak pernah mencoba sama sekali karena takut ditolak.

Saya pernah mendampingi mahasiswa yang menangis karena artikel pertamanya dikembalikan dengan catatan revisi panjang dari reviewer. Saya bilang kepadanya: "Bagus. Artinya reviewer membaca artikelmu dengan serius. Kalau tidak serius, mereka tidak akan repot-repot menulis catatan sepanjang itu."

Tiga bulan kemudian, artikel itu terbit. Dan mahasiswa itu — yang tadinya menangis di depan layar laptopnya — kini sedang mengerjakan artikel keduanya dengan jauh lebih percaya diri.

Revisi bukan hukuman. Revisi adalah proses belajar paling efisien yang pernah ada dalam dunia akademik — karena kamu belajar langsung dari orang yang lebih ahli, secara spesifik, tentang kelemahanmu yang paling konkret. Tidak ada kelas metodologi penelitian yang bisa memberikan umpan balik sedetail dan sepersonal itu. Manfaatkan setiap catatan reviewer seperti kamu membayar mahal untuk mendapatkannya — karena secara tidak langsung, memang begitulah adanya.

Tembok Keempat: "Tidak Ada Jurnal yang Mau Menerima"

Ini yang paling tidak bisa saya terima sebagai alasan. Karena secara faktual, ini salah.

Data SINTA Kemdiktisaintek per Mei 2026 mencatat 15.456 jurnal terakreditasi dari 1.915 penerbit di seluruh Indonesia — tersebar dari SINTA 1 hingga SINTA 5, mencakup teknologi informasi, manajemen, ekonomi, hukum, pendidikan, teknik, sains, hingga seni dan budaya. GARUDA sendiri mencatat 29.376 jurnal dengan lebih dari 5,22 juta artikel yang telah terindeks.

Di antara angka itu, ada jurnal yang tepat untuk penelitianmu. Selalu ada.

Dan kalau kamu masih bilang tidak ada jurnal yang mau menerima artikelmu, izinkan saya menerjemahkan itu ke dalam bahasa yang lebih jujur: artikelmu belum cukup baik untuk jurnal yang kamu tuju, dan kamu belum mau berusaha cukup keras untuk memperbaikinya. Itu bukan masalah ekosistem jurnal. Itu masalah komitmen.

Saya mengelola dan menjadi bagian dari tim editorial beberapa jurnal — dan dari posisi itu saya bisa berkata dengan penuh keyakinan: pengelola jurnal tidak mencari artikel yang sempurna. Mereka mencari artikel yang jujur secara metodologi, relevan secara topik, dan ditulis dengan niat yang serius. Itu saja.

Soal biaya yang sering dijadikan alasan tambahan — itu pun tidak lagi relevan sebagai hambatan mutlak. Sejumlah jurnal terakreditasi nasional menawarkan APC di kisaran Rp150.000 hingga Rp300.000 — lebih murah dari biaya fotokopi skripsi. Beberapa jurnal bahkan membuka program APC waiver penuh untuk tema-tema tertentu. Ekosistem ini sudah jauh lebih terbuka dari yang kebanyakan orang bayangkan. Yang kurang bukan aksesnya — yang kurang adalah kemauannya.

Yang Sebenarnya Terjadi di Lapangan

Sekarang saya akan bicara tentang sesuatu yang jarang diakui secara terbuka di ruang-ruang rapat akademik.

Ada dua jenis dosen dalam ekosistem akademik Indonesia. Jenis pertama adalah dosen yang melihat publikasi ilmiah sebagai kewajiban yang harus dipenuhi — sesuatu yang dikerjakan menjelang deadline BKD, dengan cara tercepat dan termudah yang tersedia. Jenis kedua adalah dosen yang melihat publikasi ilmiah sebagai alat untuk menjawab pertanyaan yang benar-benar mengganggunya — sesuatu yang dikerjakan karena ada masalah nyata yang ingin dipecahkan.

Saya tidak akan berpura-pura bahwa saya selalu berada di kategori kedua. Tidak. Ada kalanya saya juga merasakan tekanan deadline. Ada kalanya saya juga menulis artikel karena kebutuhan administratif. Saya manusia, bukan mesin riset.

Tetapi saya belajar satu hal yang tidak bisa dibantah dari pengalaman itu: artikel yang ditulis karena tekanan deadline biasanya menghasilkan pengetahuan yang biasa-biasa saja dan jarang disitasi. Artikel yang ditulis karena rasa ingin tahu yang genuine menghasilkan pengetahuan yang bertahan lama dan terus relevan bertahun-tahun setelah diterbitkan.

Penelitian saya tentang transformasi digital UMKM di era industri 5.0 lahir bukan dari tekanan BKD. Ia lahir karena saya melihat langsung bagaimana pelaku UMKM di Banda Aceh kebingungan menghadapi perubahan teknologi yang datang terlalu cepat — dan saya merasa ada tanggung jawab untuk mendokumentasikan kebingungan itu secara ilmiah agar bisa menjadi referensi bagi kebijakan yang lebih baik. Itulah yang membuat penelitian itu disitasi 48 kali. Bukan karena saya lebih pintar dari peneliti lain. Tapi karena saya menulis tentang sesuatu yang nyata, dengan data yang jujur, untuk menjawab pertanyaan yang relevan bagi banyak orang.

Data ARJUNA 2022–2026 menunjukkan bahwa 98,80% dari 45.119 usulan akreditasi jurnal adalah re-akreditasi — bukan jurnal baru. Artinya ribuan jurnal yang sudah ada itu terus hidup karena ada peneliti-peneliti yang terus mengisinya dengan riset dari lapangan, dari daerah, dari masalah-masalah lokal yang tidak pernah masuk ke jurnal internasional tetapi sangat nyata bagi masyarakat yang mengalaminya. Itulah ekosistem yang sesungguhnya. Dan kamu adalah bagian dari ekosistem itu — mau atau tidak.

Mulai dari Mana? Mulai dari yang Paling Dekat

Satu pertanyaan praktis yang hampir selalu menyusul setelah seseorang akhirnya memutuskan untuk mencoba: "Pak, saya mulai kirim ke jurnal mana?"

Jawaban saya selalu sama: mulailah dari lingkungan yang paling kamu kenal. Bukan karena jurnal lokal lebih mudah — proses peer review yang serius tetaplah serius, di mana pun jurnalnya. Tapi karena ketika kamu mengirimkan artikel ke jurnal yang dikelola oleh orang-orang yang kamu bisa temui langsung, yang memahami konteks riset di daerahmu, yang bisa kamu tanya prosesnya secara langsung — hambatan psikologis pertama itu jauh lebih mudah dilalui.

Saya bicara dari pengalaman langsung. Sebagai bagian dari tim editorial beberapa jurnal yang diterbitkan di lingkungan STMIK Indonesia Banda Aceh, saya melihat setiap hari bagaimana proses itu bekerja dari dalam. Ada Jurnal Manajemen dan Teknologi yang menjadi rumah bagi riset-riset di persimpangan antara ilmu manajemen dan penerapan teknologi — topik yang sangat relevan dengan tantangan organisasi dan bisnis hari ini. Ada Jurnal Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi yang menampung riset-riset teknis di bidang komputasi, pemrograman, dan sistem informasi. Ada Jurnal Sistem Komputer (SISKOM) yang fokus pada arsitektur sistem, jaringan, dan infrastruktur teknologi.

Di luar bidang teknis murni, ada Jurnal Indonesia: Manajemen Informatika dan Komunikasi yang menjembatani riset informatika dengan perspektif komunikasi dan manajemen — ruang yang semakin relevan di era transformasi digital. Dan bagi dosen maupun mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, Jurnal Pengabdian Nasional (JPN) Indonesia adalah wadah yang tepat untuk mendokumentasikan dampak nyata dari program-program yang selama ini hanya hidup di laporan kegiatan.

Saya menyebut jurnal-jurnal ini bukan untuk berpromosi. Saya menyebutnya karena saya tahu dari dalam bagaimana komitmen editorial di baliknya — dan karena saya percaya bahwa peneliti yang baru memulai perjalanan publikasinya berhak mendapatkan lingkungan yang serius sekaligus suportif. Kedua hal itu bisa hadir bersamaan. Dan itu adalah standar yang saya pegang ketika saya duduk sebagai bagian dari tim yang menilai naskah-naskah yang masuk.

Ekosistem jurnal yang baik bukan hanya soal indeks dan akreditasi. Ia soal apakah ada orang di balik jurnal itu yang benar-benar peduli bahwa riset yang masuk menjadi lebih baik setelah melalui proses review — bukan sekadar lolos atau ditolak. Itulah yang saya coba jaga, dan itulah yang saya harap bisa kamu rasakan ketika kamu akhirnya memutuskan untuk mengirimkan naskah pertamamu.

Untuk Mahasiswa yang Sedang Membaca Ini

Saya tahu kamu lelah. Tugas menumpuk, deadline bertabrakan, ekspektasi dari segala arah terasa tidak ada habisnya. Dan sekarang ada yang bilang kamu harus nulis jurnal juga.

Tapi dengarkan ini baik-baik: publikasi ilmiah pertamamu akan mengubah cara kamu melihat dirimu sendiri — dengan cara yang tidak akan bisa diberikan oleh pencapaian akademik lain mana pun.

Bukan karena tiba-tiba kamu jadi terkenal. Bukan karena tiba-tiba nilai IPK-mu naik. Tapi karena untuk pertama kalinya, kamu akan merasakan bahwa pemikiranmu — pemikiran yang lahir dari kepalamu sendiri, dari pengamatanmu sendiri, dari kerja kerasmu sendiri — dianggap cukup berharga untuk didokumentasikan dan dibagikan kepada dunia. Bahwa ada orang di tempat lain, yang belum pernah kamu temui, yang membaca tulisanmu dan menemukan sesuatu yang berguna di dalamnya.

Itu adalah perasaan yang tidak bisa dibeli dengan nilai A di mata kuliah mana pun.

Dan ekosistem yang ada sekarang — dengan lebih dari 15.000 jurnal terakreditasi, dengan platform open access yang bisa diakses gratis, dengan 331.407 penulis aktif yang artinya ada ratusan ribu orang yang sudah membuktikan bahwa ini mungkin dilakukan — adalah ekosistem yang paling ramah bagi peneliti pemula yang pernah ada dalam sejarah akademik Indonesia.

Tidak ada alasan untuk tidak memulai. Kecuali rasa takut. Dan rasa takut, sebesar apa pun ia terasa, bukan alasan yang cukup baik untuk berhenti sebelum mulai.

Satu Pesan Terakhir untuk Rekan Dosen

Kita sering mengeluh bahwa mahasiswa tidak punya budaya riset. Bahwa generasi sekarang malas berpikir kritis. Bahwa ekosistem akademik Indonesia tidak berkualitas.

Tapi izinkan saya bertanya satu pertanyaan yang sederhana dan tidak nyaman: sudah berapa kali kita menunjukkan kepada mahasiswa bahwa kita sendiri masih aktif meneliti dan menerbitkan — bukan karena terpaksa, tapi karena kita genuinely penasaran dengan sesuatu?

Budaya riset tidak diajarkan melalui silabus. Ia tidak lahir dari kebijakan kampus. Ia ditularkan melalui teladan — melalui dosen yang terlihat bersemangat ketika membicarakan data yang baru ia kumpulkan, yang dengan bangga menunjukkan artikel terbarunya kepada mahasiswa, yang dengan jujur bercerita tentang artikel yang pernah ditolak dan apa yang ia pelajari dari penolakan itu.

Dari 249.000 lebih dosen yang tercatat aktif di Indonesia, hanya sebagian yang memiliki rekam jejak publikasi yang konsisten. Kesenjangan itu bukan karena dosen-dosen lainnya tidak mampu — melainkan karena sistem yang kita bangun bersama terlalu lama menempatkan publikasi sebagai beban administratif, bukan sebagai bagian alami dari profesi akademik yang kita pilih dengan sadar.

Kalau kita ingin mahasiswa kita punya budaya riset yang sehat, mulailah dengan menunjukkan kepada mereka bahwa kita sendiri masih bersemangat untuk mencari tahu — masih mau duduk di depan data, masih mau merevisi draft ke-10 karena reviewer punya poin yang valid, masih mau menerbitkan penelitian tentang masalah nyata di sekitar kita meskipun topiknya tidak glamor dan jurnalnya "hanya" SINTA 4.

Itu lebih dari cukup. Dan itu dimulai dari kita — bukan dari kebijakan, bukan dari kurikulum, bukan dari sistem insentif yang lebih baik. Dari kita, hari ini, dengan apa yang sudah kita miliki.


Abdussalam, S.Kom., M.M. adalah Dosen Lektor di STMIK Indonesia Banda Aceh dengan bidang keahlian manajemen dan sistem informasi. Ia aktif meneliti transformasi digital UMKM, sistem informasi manajemen, dan pengembangan sumber daya manusia. Ia juga terlibat sebagai bagian dari tim editorial beberapa jurnal ilmiah di lingkungan STMIK Indonesia Banda Aceh. Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis.

0/Post a Comment/Comments

Ads