Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 0,66 persen menjadi US$97,03 per barel, sementara minyak acuan global, Brent crude, menguat 0,44 persen mencapai US$108,67 per barel. Kenaikan ini diperkirakan akan berdampak pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, menembus angka Rp1,8 juta per barel untuk Brent.
Prospek Pasar Energi dan Dampak Jangka Panjang
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump telah membahas proposal damai dari Iran dengan tim keamanan nasionalnya. Proposal tersebut mencakup syarat bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade dan pengakhiran permusuhan oleh Washington. Namun, Trump sebelumnya menegaskan bahwa pencabutan sanksi hanya akan dilakukan setelah kesepakatan tercapai sepenuhnya, menyisakan ketidakjelasan arah negosiasi.
Gangguan pasokan minyak global juga masih menjadi perhatian utama. Jalur strategis Selat Hormuz, yang menyalurkan sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia, dilaporkan mengalami disrupsi signifikan. Analis energi memperkirakan pemulihan pasar tidak akan terjadi dalam waktu singkat meskipun konflik mereda. Diperlukan waktu berbulan-bulan untuk membersihkan ranjau, mengatasi kemacetan tanker, serta memulihkan produksi dan pengolahan minyak.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, memproyeksikan pasar minyak global membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam bulan untuk kembali stabil. Selama periode ini, harga minyak berpotensi tetap tinggi seiring dengan menipisnya cadangan.
"Semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi harganya, terutama karena persediaan berkurang hingga ke tingkat operasional kritis," ujar Lipow. Ia menambahkan bahwa jika konflik berakhir segera, harga minyak mentah diperkirakan dapat turun sekitar US$10 per barel. Namun, tanpa adanya negosiasi baru, harga minyak mentah WTI diprediksi akan kembali ke level US$100 dan Brent melampaui US$110.
Sumber : Viva
Posting Komentar