Fenomena yang dikenal sebagai "brainrot" ini, meskipun bukan istilah medis, semakin menarik perhatian para ahli karena tren yang muncul dalam data penelitian menunjukkan dampak signifikan terhadap gaya hidup generasi muda.
Adam de Havenon, seorang peneliti dari Yale School of Medicine, menekankan pentingnya memahami temuan ini dengan cermat. "Masalah pada memori dan cara berpikir telah muncul sebagai salah satu masalah kesehatan utama yang dilaporkan orang dewasa di Amerika Serikat," ujarnya, seperti dikutip dari Inc.
Ia menambahkan, "Ini bukan diagnosis demensia atau bahkan gangguan kognitif. Ini adalah laporan subjektif dari orang-orang yang merasa mengalami kesulitan serius dalam berkonsentrasi, mengingat, atau membuat keputusan."
Pergeseran Kognitif di Era Digital
Data studi menunjukkan bahwa kelompok usia 18-34 tahun mengalami peningkatan hampir dua kali lipat dalam laporan kesulitan kognitif selama dekade terakhir, melonjak dari 5,1 persen pada tahun 2013 menjadi 9,7 persen pada tahun 2023. Angka ini jauh lebih mencolok dibandingkan kelompok usia lainnya.
Para peneliti menduga kuat bahwa perubahan gaya hidup yang didominasi oleh digitalisasi berperan besar dalam pergeseran ini. Paparan layar yang tinggi, kebiasaan multitasking, serta konsumsi informasi yang cepat dan berkelanjutan dari media sosial diduga memengaruhi kemampuan fokus jangka panjang.
Dalam pandangan lain, neuroscientist Jared Cooney Horvath menyoroti perubahan ini dalam konteks yang lebih luas. "Selama dua dekade terakhir, perkembangan kognitif anak-anak di banyak negara maju cenderung melambat, dan dalam banyak aspek justru mengalami kemunduran," ujarnya.
Ia juga berpendapat bahwa kebijakan yang terlalu cepat mendorong adopsi teknologi tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya perlu ditinjau kembali. Meskipun belum ada kesimpulan definitif yang menyatakan teknologi sebagai penyebab tunggal, banyak pihak mulai mengaitkan fenomena ini dengan pola hidup modern.
Kebiasaan menggulir (scroll) tanpa henti, notifikasi yang terus-menerus masuk, dan tekanan untuk selalu terhubung secara daring (online) diduga dapat mengganggu kemampuan otak untuk beristirahat dan memproses informasi secara mendalam. Kondisi ini sekaligus membuka diskusi baru mengenai pentingnya keseimbangan hidup di era digital yang serba cepat.
Posting Komentar