Koreksi harga ini terjadi dengan cepat, di mana Bitcoin kehilangan nilai sekitar 3 persen hanya dalam beberapa jam. Level tersebut tercatat mendekati titik terendah yang pernah dicapai pada 5 Februari 2026, saat harganya sempat berada di bawah US$60.000.
Meskipun sempat menunjukkan upaya pemulihan dengan menyentuh kisaran US$65.000, Bitcoin kembali mengalami tekanan jual dan melemah. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Minggu, 1 Maret 2026 pukul 08.41 WIB, harga Bitcoin menunjukkan pemulihan tipis 1,31 persen dalam 24 jam terakhir, membawanya ke posisi US$66.762,06 atau setara Rp1,12 miliar.
Menurut para analis, fenomena ini sejalan dengan pola historis di mana aset kripto bereaksi cepat terhadap guncangan geopolitik. Sifat pasar kripto yang beroperasi 24 jam nonstop membuat Bitcoin menjadi salah satu aset yang paling mudah dilikuidasi oleh investor untuk menghindari risiko, terutama saat pasar keuangan tradisional sedang tutup pada akhir pekan.
Sentimen Investor dan Proyeksi Jangka Pendek
Akibatnya, Bitcoin sering kali berfungsi sebagai indikator awal dari sentimen risk-off global, menyerap tekanan jual yang dalam situasi normal juga akan berdampak pada pasar saham dan komoditas. Ketidakmampuan harga untuk stabil di atas level US$65.000 mengindikasikan bahwa para pelaku pasar masih bersikap sangat hati-hati.
Meningkatnya tensi di Timur Tengah menambah lapisan ketidakpastian yang signifikan bagi pasar keuangan secara keseluruhan. Investor kini mengamati dengan cermat apakah Bitcoin mampu mempertahankan level dukungan psikologis di US$60.000 atau berisiko mengalami penurunan lebih lanjut jika eskalasi konflik terus berlanjut.

Posting Komentar