Kenali Tanda Depresi Anak yang Sering Terlewat Orang Tua

Ilustrasi seorang anak yang terlihat murung duduk sendirian di kamar, dengan bayangan orang tua yang sibuk bekerja di latar belakang, menunjukkan tanda-tanda depresi yang terabaikan.

IDNEWSUPDATE.COM -  Kasus dugaan bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur menjadi pengingat bahwa gejala depresi pada anak sering terabaikan oleh orang tua dan lingkungan terdekat. Padahal, tanda-tanda ini biasanya sudah tampak jauh sebelum kondisi memburuk.

Psikolog anak Mira Amir menjelaskan bahwa depresi pada anak memiliki spektrum gejala yang luas dan sering kali tumpang tindih dengan fase perkembangan usia kanak-kanak. "Tandanya itu banyak dan sering kali overlap dengan ciri-ciri usia anak. Jadi mungkin akan menyulitkan buat lingkungannya, terutama keluarga, untuk mendeteksi sedari awal," kata Mira.

Waspadai Perubahan Perilaku dan Kondisi Anak

Orang tua perlu waspada terhadap sejumlah tanda yang dapat mengindikasikan anak mengalami depresi. Perubahan perilaku merupakan salah satu indikator paling umum. Anak yang sebelumnya ceria dan aktif bisa tiba-tiba menjadi lebih pendiam dan menarik diri, baik di rumah maupun di sekolah.

Selain itu, anak yang mengalami depresi cenderung tampak lebih gelisah, sensitif, dan mudah tersinggung. Mereka dapat terlihat tidak nyaman dalam interaksi sosial dan lebih mudah terusik oleh hal-hal kecil. Pada usia sekolah dasar, tanda-tanda ini sebenarnya dapat terdeteksi jika orang tua maupun guru cukup peka terhadap perubahan sikap anak dalam keseharian.

Penurunan energi yang jelas juga bisa menjadi sinyal. "Anak yang tadinya riang bermain bisa jadi menarik diri, terlihat lesu, lunglai, tidak bersemangat, dan kurang responsif, baik dalam komunikasi maupun aktivitas belajar di kelas," ujar Mira. Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai kemalasan, kemanjaan, atau kelelahan biasa, padahal bisa jadi merupakan sinyal awal gangguan kesehatan mental.

Gangguan pola tidur juga perlu dicermati. Anak dapat mengalami kesulitan tidur, tidur gelisah, sering terbangun di malam hari, atau justru tidur berlebihan, terutama pada fase prapubertas. Gangguan tidur ini umumnya berdampak pada aktivitas anak di siang hari, membuat mereka lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan semangat.

"Segala macam gangguan itu semakin cepat diketahui keluarga, penanganannya akan semakin baik dan prognosisnya juga lebih positif," tegas Mira. Kesadaran orang tua, keluarga, dan sekolah untuk lebih peka terhadap kondisi emosional anak menjadi langkah krusial agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

0/Post a Comment/Comments

Ads