Lima Tren Liburan 2026 Ubah Cara Wisatawan Berpetualang




IDNEWSUPDATE.COM -  Tahun 2026 diprediksi akan menyaksikan pergeseran signifikan dalam preferensi wisata, di mana lima gaya perjalanan baru diperkirakan akan mendominasi. Tren ini menawarkan inspirasi bagi calon pelancong untuk merencanakan petualangan mereka, dipengaruhi oleh dinamika teknologi, ekonomi, sosial-budaya, infrastruktur, alam, dan kebijakan pemerintah.

Secara umum, wisata di tahun 2026 tidak lagi sekadar tentang mencari kesenangan di destinasi populer. Pelancong kini lebih mendambakan pengalaman yang mendalam dan bermakna.

Tren Wisata 2026

Salah satu fenomena yang diprediksi meroket adalah astro-tourism, atau wisata langit. Fenomena ini mulai terlihat pasca gerhana matahari total pada 12 Agustus lalu, diperkuat dengan penampakan aurora dan gerhana bulan di berbagai belahan dunia. Destinasi seperti Gurun Atacama di Chili, Cagar Alam Aoraki Mackenzie di Selandia Baru, dan negara bagian Utah di Amerika Serikat menjadi incaran utama. Joanna Reeve, Direktur Intrepid Inggris, menyatakan, "Astro-tourism memungkinkan orang untuk terhubung dengan alam pada saat dunia terasa lebih online dari sebelumnya." Aktivitas ini tak hanya memberikan kedamaian, tetapi juga berpotensi membawa manfaat ekonomi bagi komunitas di daerah terpencil.

Selanjutnya, perjalanan nostalgia menawarkan kesempatan untuk kembali ke masa lalu, menghidupkan kembali kenangan masa kecil. James Turner, Pendiri 360 Private Travel, mengamati, "Kami menemukan bahwa klien kami semakin tertarik pada perjalanan yang memicu rasa takjub yang sama yang mereka ingat sejak kecil. Apakah itu tidur di rumah pohon di bawah bintang-bintang atau memiliki petualangan koboi di atas kuda." Pengalaman yang membangkitkan emosi dan ingatan pribadi ini dianggap memberikan nilai yang lebih berharga.

Pengalaman komunitas juga mengalami peningkatan, dengan operator tur seperti Timbuktu Travel melaporkan peningkatan pemesanan untuk aktivitas budaya yang autentik. Wisatawan kini beralih dari destinasi mainstream yang ramai demi pengalaman yang lebih mendalam. Johnny Prince, salah satu pendiri Timbuktu Travel, menyoroti, "Baru-baru ini, kami telah memfasilitasi para pelancong untuk mempelajari teknik menenun yang dijaga oleh komunitas Andes selama lebih dari 5 ribu tahun dan tidur di Kalahari dengan keluarga yang telah mewariskan keterampilan bertahan hidup di generasi yang tak terhitung jumlahnya."

Tren lain yang tak kalah penting adalah perjalanan solo. Peningkatan permintaan ini terlihat dari berbagai kelompok usia yang mencari kemandirian dalam liburan mereka. Tim Riley, direktur pelaksana True Traveller, mencatat, "Wisatawan semakin percaya diri melakukannya sendiri. Tujuan-tujuan yang sedikit berada di luar jalur yang dilalui tetapi infrastrukturnya bagus, seperti Bali, Thailand, dan Jepang, memimpin di antara para pelancong solo." Fenomena ini juga merambah ke pelayaran sungai yang kini lebih diminati oleh pelancong solo.

Terakhir, kesadaran akan dampak over-tourism mulai memengaruhi pilihan destinasi. Penelitian Interpid menunjukkan bahwa hampir setengah warga Inggris (44%) mempertimbangkan dampak pariwisata berlebihan dalam perencanaan liburan mereka. Tren ini mendorong wisatawan untuk mencari tempat-tempat yang kurang dikenal dan jauh dari keramaian demi menjaga kelestarian lingkungan dan komunitas lokal.

Sumber : cnnindonesia.com

0/Post a Comment/Comments