Di Tengah Bencana, di Ujung Kepercayaan dalam Krisis Reputasi Kementerian Kehutanan untuk Penanganan Bencana di Sumatra


IDNEWSUPDATE.COM -  Bencana alam yang terjadi di wilayah Sumatra, seperti banjir bandang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta tanah longsor, kerap menimbulkan sorotan publik terhadap peran negara dalam upaya pencegahan dan penanganannya. 

Kementerian Kehutanan (dan sektor kehutanan secara umum) sering kali menjadi pihak yang disorot karena memiliki kewenangan strategis dalam pengelolaan hutan, konservasi lingkungan, serta mitigasi bencana berbasis ekosistem. Ketika penanganan bencana dinilai lambat, tidak terkoordinasi, atau tidak transparan, kondisi tersebut berpotensi memicu krisis reputasi institusi.

Dari sudut pandang manajemen reputasi, krisis ini tidak hanya menyangkut persoalan teknis penanganan bencana, tetapi juga menyentuh aspek persepsi, kepercayaan publik, dan legitimasi kelembagaan di mata para pemangku kepentingan.

Krisis reputasi Kementerian Kehutanan dalam konteks penanganan bencana di Sumatra dapat dipahami sebagai akumulasi dari beberapa faktor. Pertama, adanya persepsi publik bahwa kerusakan hutan, alih fungsi lahan, dan lemahnya pengawasan kawasan hutan berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi dan skala bencana. Dalam kondisi ini, kementerian dipandang tidak optimal menjalankan fungsi preventif.

Kedua, komunikasi publik yang kurang responsif pada fase awal bencana sering memicu spekulasi dan narasi negatif di media massa maupun media sosial. Ketidakhadiran penjelasan resmi yang cepat dan komprehensif membuka ruang bagi opini publik yang menyalahkan institusi.

Ketiga, koordinasi lintas lembaga yang tidak terlihat secara jelas oleh publik juga memperburuk citra. Meskipun secara internal terdapat mekanisme kerja sama dengan BNPB, pemerintah daerah, dan instansi terkait, kurangnya eksposur komunikasi membuat publik menilai kementerian bekerja secara parsial dan tidak terintegrasi.

Dalam kerangka manajemen reputasi, krisis bencana merupakan ancaman serius karena menyangkut kepentingan publik yang luas dan nilai kemanusiaan. Reputasi kementerian tidak hanya diukur dari keberhasilan program jangka panjang, tetapi juga dari kemampuan merespons situasi darurat secara cepat, empatik, dan bertanggung jawab.

Kegagalan dalam mengelola komunikasi krisis berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat, memperlemah dukungan politik, serta memengaruhi legitimasi kebijakan kehutanan ke depan. Reputasi yang tergerus juga dapat berdampak pada hubungan dengan mitra internasional, LSM lingkungan, dan komunitas lokal.

Dari perspektif manajemen reputasi, penanganan krisis tidak cukup hanya berfokus pada pemulihan fisik pascabencana, tetapi harus diiringi dengan strategi komunikasi dan tata kelola reputasi yang terencana.

Pertama, kementerian perlu mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Penyampaian informasi berbasis data terkait penyebab bencana, langkah penanganan, serta evaluasi kebijakan kehutanan harus dilakukan secara terbuka dan konsisten.

Kedua, pendekatan komunikasi empatik menjadi kunci. Dalam situasi bencana, publik tidak hanya menuntut solusi teknis, tetapi juga kehadiran negara yang peduli terhadap korban. Pernyataan resmi yang menunjukkan empati dan tanggung jawab moral dapat meredam kemarahan publik.

Ketiga, penguatan narasi jangka panjang tentang komitmen perbaikan tata kelola hutan perlu dibangun. Reputasi yang pulih tidak hanya berasal dari respons krisis sesaat, tetapi dari konsistensi kebijakan restorasi hutan, penegakan hukum terhadap pelanggaran, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan berkelanjutan.

Media massa dan media digital memainkan peran strategis dalam membentuk reputasi kementerian. Oleh karena itu, manajemen reputasi menuntut hubungan yang proaktif dengan media melalui penyediaan informasi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami. Selain itu, dialog dengan LSM, akademisi, dan komunitas terdampak penting untuk membangun kembali kepercayaan dan menunjukkan keterbukaan institusi.

Pelibatan stakeholder ini mencerminkan bahwa kementerian tidak bekerja secara top-down, melainkan mengadopsi pendekatan kolaboratif dalam mitigasi dan penanganan bencana.

Krisis reputasi Kementerian Kehutanan dalam penanganan bencana di Sumatra menunjukkan bahwa reputasi institusi publik sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengelola persepsi dan komunikasi di tengah situasi krisis. Dari sudut pandang manajemen reputasi, bencana bukan hanya ujian kapasitas teknis, tetapi juga ujian kredibilitas, empati, dan kepemimpinan.

Daniel Bahari Pasaribu

Penulis menilai dengan strategi komunikasi krisis yang transparan, empatik, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan, krisis reputasi dapat dikelola menjadi momentum untuk memperkuat kepercayaan publik serta memperbaiki tata kelola kehutanan di masa depan.


Penulis :  
Daniel Bahari Pasaribu,  Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Korporat Universitas Paramadina


0/Post a Comment/Comments