Industri Makanan Minuman Nasional Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Ilustrasi abstrak yang menggambarkan rantai pasok industri makanan dan minuman dengan elemen ekonomi global, mata uang yang berfluktuasi, dan diagram pertumbuhan.
Industri Makanan Minuman Nasional Hadapi Tantangan Ekonomi Global

IDNEWSUPDATE.COM - Industri makanan dan minuman nasional, khususnya pada sektor minuman kemasan, menunjukkan ketahanan yang signifikan sebagai tulang punggung manufaktur dan penopang konsumsi domestik di tengah tekanan ekonomi global, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian geopolitik.

Peneliti Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, mengungkapkan bahwa dinamika pasar saat ini menuntut perhatian khusus terhadap daya beli masyarakat sebagai penggerak utama permintaan, terutama pada momentum seperti Ramadan dan Lebaran. Pertumbuhan industri ini, meski positif, masih dibayangi oleh tantangan struktural.

"Momentum Ramadan, Lebaran, mobilitas masyarakat, serta konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural antara lain; pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.900 per dolar AS, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri," jelas Muhammad Ishak Razak pada Kamis, 4 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan industri minuman ringan ini masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural. Ketergantungan yang tinggi pada impor bahan baku dan kemasan, ditambah dengan fluktuasi kurs mata uang, memperparah tantangan operasional yang dihadapi pelaku usaha.

Kondisi Industri Makanan Minuman

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, menilai bahwa situasi industri belum sepenuhnya pulih ke kondisi ideal meskipun mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen. Angka ini masih berada di bawah kisaran 7-9 persen seperti sebelum pandemi.

"Kami menilai bahwa meskipun industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang sebelumnya dapat mencapai kisaran 7–9 persen. Sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan I- 2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadan- Lebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat," ujar Triyono Prijosoesilo.

Berdasarkan data inflasi per April 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen (year-on-year), angka ini berada di atas tingkat inflasi umum nasional sebesar 2,42 persen.

Sumber : viva.co.id

0/Post a Comment/Comments

Ads