Kekerasan Seksual Jadi Ancaman Remaja Perkotaan, UNJ Dorong Pendidikan Seks Berbasis Islam di SMAN 37 Jakarta

Dosen Universitas Negeri Jakarta, Zulfatun Ni’mah, S.S., M.Pd. menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan di SMAN 37 Jakarta pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 13.20 WIB.


IDNEWSUPDATE.COM -
  Kasus kekerasan seksual terhadap anak dan remaja di Indonesia terus meningkat dan menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), ribuan kasus kekerasan seksual pada anak terjadi setiap tahun dan banyak dialami usia remaja. Kondisi ini diperparah oleh pengaruh media digital, lingkungan pergaulan, serta minimnya edukasi perlindungan diri.

Di tengah kondisi tersebut, pendidikan seks masih sering dianggap tabu untuk dibahas di lingkungan keluarga maupun sekolah. Padahal, kurangnya pemahaman justru membuat remaja lebih rentan terhadap kekerasan seksual, pornografi, dan penyimpangan informasi dari media sosial.

Melihat persoalan itu, Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (PAI FISH UNJ) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pendampingan Penguatan Pendidikan Seks Berbasis Islam bagi Remaja di Wilayah Perkotaan” di SMAN 37 Jakarta pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 13.20 WIB.

Kegiatan tersebut diikuti para guru dan pimpinan sekolah SMAN 37 Jakarta sebagai audiens utama, serta melibatkan dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Pengabdian masyarakat ini dikemas dalam bentuk seminar edukatif dan diskusi interaktif untuk memperkuat pemahaman guru mengenai pendidikan seks berbasis Islam.

Dosen Universitas Negeri Jakarta, Zulfatun Ni’mah, S.S., M.Pd., menjelaskan bahwa pendidikan seks bukan sesuatu yang tabu, bahkan dalam Islam telah diajarkan sejak dini melalui pembahasan adab, batas aurat, kebersihan diri, hingga perlindungan diri sesuai tahap usia anak.

“Sering kali kita mengira kekerasan seksual muncul karena faktor besar dari luar. Padahal, banyak kasus justru berawal dari kurangnya edukasi, lingkungan pergaulan, pola pikir, dan kondisi keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan seks berbasis Islam tidak hanya membahas persoalan biologis, tetapi juga menanamkan pemahaman tentang fitrah seksualitas, identitas diri, adab pergaulan, tanggung jawab, dan kesadaran menjaga diri di era digital.

Ia juga menjelaskan bahwa pendidikan seks dalam Islam perlu diberikan secara bertahap sesuai usia anak, mulai dari pengenalan tubuh dan kebersihan diri sejak dini, pemahaman batas aurat dan privasi pada masa pra-tamyiz, hingga kesiapan biologis dan syariat ketika memasuki usia remaja.

Dalam sesi materi, peserta mendapatkan pemahaman tentang pentingnya menjaga pandangan dari pengaruh media yang tidak sesuai, penguatan identitas diri remaja, serta pencegahan pornografi dan kekerasan seksual di lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari.

Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para guru SMAN 37 Jakarta. Mereka menilai materi yang diberikan relevan dengan kondisi remaja saat ini dan membantu sekolah dalam memperkuat pendidikan karakter siswa.

“Saya merasa sangat bersyukur mendapatkan banyak ilmu dan termotivasi untuk menjadi guru yang lebih memahami serta memperhatikan karakter siswa melalui pendidikan seks sejak usia dini,” ujar Ibu Brenda, guru kimia SMAN 37 Jakarta.

0/Post a Comment/Comments

Ads