Sepanjang tahun 2025, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sebanyak 5,2 miliar trafik internet berpotensi menjadi jalur serangan siber, dengan 94 persen di antaranya merupakan malware berisiko tinggi yang dapat bertransformasi menjadi ransomware.
Kondisi ini menuntut industri keuangan digital untuk menempatkan keamanan, ketahanan infrastruktur, dan manajemen risiko sebagai pondasi utama demi membangun sistem pembayaran yang sehat dan berkelanjutan. Pertumbuhan yang cepat tidak lagi menjadi satu-satunya tuntutan, melainkan harus dibarengi dengan ketahanan (resilience).
Oleh karena itu, Fraud Detection System (FDS) bukan lagi sekadar fitur pendukung, melainkan telah menjadi infrastruktur krusial bagi kelangsungan industri keuangan digital.
Memperkuat Pertahanan Digital Melawan Serangan AI
Wakil Ketua Umum II Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Budi Gandasoebrata, menekankan bahwa keamanan, ketahanan infrastruktur, dan manajemen risiko merupakan pondasi utama dalam membangun sistem pembayaran yang sehat dan berkelanjutan. "Industri tidak lagi hanya dituntut untuk tumbuh cepat tetapi juga harus tumbuh resilient. Dan dalam konteks tersebut, Fraud Detection System atau FDS saat ini bukan lagi sekadar fitur pendukung, melainkan infrastruktur krusial bagi industri keuangan digital," ungkapnya.
Kepala Direktorat Pembelaan Hukum Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tri Herdianto, menambahkan bahwa pelaku industri di sektor jasa keuangan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. "Perkembangan transaksi digital di Indonesia menunjukan peningkatan yang signifikan didorong oleh semakin luasnya penggunaan e-wallet, termasuk QRIS. Peningkatan yang signifikan ini tentu dibarengi dengan ancaman yang makin kompleks, baik dari sisi metode maupun skala," jelasnya.
Dalam menghadapi ancaman yang semakin canggih, kesiapan industri dalam memperkuat keamanan transaksi digital menjadi sangat krusial. Industri harus memahami bahwa fraud resilience bukan lagi sekadar isu teknis atau teknologi, melainkan pilar utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat dan memastikan keberlanjutan bisnis di sektor jasa keuangan.
Direktur Utama Jalin, Ario Tejo Bayu Aji, menyoroti bahwa lanskap ancaman yang mengintai platform pembayaran digital menuntut pendekatan keamanan yang bersifat kolektif melalui penguatan shared services & infrastruktur di bidang fraud management. "Pendekatan shared services ini memungkinkan pelaku industri mengoptimalkan investasi serta memaksimalkan efisiensi operasional. Dengan struktur yang terstandarisasi, kualitas keamanan dapat ditingkatkan, respons terhadap insiden menjadi lebih cepat, dan risiko sistemik dapat ditekan secara signifikan," ungkap Ario.
Sumber : viva.co.id
Posting Komentar