IDNEWSUPDATE.COM - Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui Program Equity melaksanakan pengabdian masyarakat kolaboratif internasional bertajuk “Community Empowerment through International Collaboration between Indonesia and Malaysia in Developing Musical Skills in Cisaat Village, Subang, West Java.”
Program ini menggandeng Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia, sebagai mitra strategis untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan keterampilan musik, pemanfaatan teknologi produksi audio digital, serta pengembangan potensi ekonomi kreatif berbasis seni di Desa Cisaat, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Kegiatan yang dikoordinatori oleh salah satu dosen musik UNJ bernama Dani Nur Saputra ini menyasar pada kelompok masyarakat Desa Cisaat, yaitu warga Desa Cisaat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Total sasaran kegiatan melibatkan sekitar 15 peserta aktif dan 10 peserta pasif, total 25 peserta yang terdiri atas pemuda, pelajar, dan warga masyarakat sebagai sasaran penguatan literasi musik dan pembelajaran berbasis masyarakat. Sasaran tersebut ditetapkan berdasarkan hasil koordinasi dengan perangkat desa, sekaligus sebagai upaya agar program memiliki dampak yang terukur dan tepat guna sesuai kebutuhan masyarakat.
Desa Cisaat memiliki potensi budaya yang kuat, namun masih menghadapi berbagai kendala dalam pengembangan seni musik. Berdasarkan hasil survei tim pengabdian, permasalahan utama yang ditemukan meliputi keterbatasan akses pelatihan musik yang terstruktur, minimnya fasilitas alat musik modern, kurangnya pengetahuan tentang manajemen pertunjukan dan kewirausahaan seni, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi audio digital. Kondisi ini menyebabkan aktivitas seni musik masyarakat belum berkembang maksimal dan belum diarahkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif desa, padahal wilayah tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata berbasis budaya.
Menindaklanjuti permasalahan tersebut, tim pengabdian melaksanakan program dalam empat rangkaian kegiatan utama. Tahap awal diawali dengan survei lapangan untuk memetakan kebutuhan mitra, inventarisasi alat musik yang tersedia, serta koordinasi dengan pihak desa guna menyusun jadwal dan mekanisme pelatihan. Hasil inventarisasi menunjukkan bahwa alat musik dan perangkat audio yang dimiliki warga sangat terbatas sehingga program kemudian dilanjutkan dengan pengadaan beberapa instrumen dan perangkat audio yang dibutuhkan untuk menunjang pelatihan dan pertunjukan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memastikan proses transfer keterampilan berjalan optimal.
Pelaksanaan kegiatan inti difokuskan pada pelatihan keterampilan musik seperti keyboard dan gitar, yang dipilih karena relevan dengan pengembangan kelompok musik yang direncanakan sebagai penguat identitas desa. Peserta dilatih mulai dari pengenalan instrumen, teknik dasar penjarian, pembentukan akor, hingga pola ritme yang sesuai dengan karakter musik. Pelatihan dilakukan secara praktik langsung dan berbasis kelompok agar peserta mampu beradaptasi dengan pola kerja bersama, sekaligus membangun kekompakan antaranggota sebagai fondasi pembentukan komunitas musik desa.
Selain keterampilan instrumen, program juga memberikan pelatihan pengelolaan tata suara pertunjukan dan penggunaan sound system. Peserta dibimbing untuk memahami teknik pemasangan perangkat audio, pengaturan mikrofon, serta menjaga kualitas suara agar stabil saat tampil. Kegiatan kemudian diperluas dengan pelatihan teknologi produksi musik digital menggunakan perangkat lunak FL Studio, meliputi proses perekaman, editing audio, mixing, dan mastering. Dengan keterampilan ini, masyarakat mulai mengenal bahwa karya musik dapat diproduksi secara mandiri dan memiliki peluang dipublikasikan melalui platform digital sebagai bagian dari strategi promosi desa dan pengembangan usaha kreatif.
Pada kunjungan terakhir, tim pengabdian melaksanakan latihan intensif dan pertunjukan musik sebagai bentuk implementasi hasil pelatihan sekaligus evaluasi kemampuan peserta. Pertunjukan ini disaksikan oleh perangkat desa dan warga masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan sarasehan terbuka untuk membahas potensi dan arah pengembangan seni musik Desa Cisaat. Dalam sarasehan tersebut, warga menyampaikan aspirasi agar kegiatan seni musik tidak berhenti setelah program pengabdian selesai, melainkan menjadi agenda rutin desa. Diskusi juga menyoroti pentingnya pembentukan struktur organisasi kelompok musik dan pengelolaan alat musik agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Dalam pelaksanaan program ini, tim juga mencatat beberapa kata kunci penting yang menjadi indikator monitoring dan evaluasi, yaitu pelatihan musik modern, teknologi produksi musik digital, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi kreatif, manajemen pertunjukan, pemasaran digital, serta kolaborasi internasional UNJ–UPSI. Indikator tersebut digunakan untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana, memiliki capaian yang terukur, serta menghasilkan luaran yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara akademik maupun sosial.
Dampak nyata dari kegiatan ini terlihat pada meningkatnya keterampilan peserta dalam memainkan instrumen musik modern, kemampuan dasar mengelola sound system, serta pemahaman awal tentang proses pengelolaan dan rencana bisnis. Selain itu, program berhasil membangun embrio kelompok musik desa yang lebih terorganisasi, meningkatkan rasa percaya diri peserta untuk tampil di depan publik, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa musik dapat menjadi aset budaya sekaligus peluang ekonomi. Dampak sosial juga terlihat dari meningkatnya partisipasi warga dalam kegiatan seni serta munculnya semangat kebersamaan lintas generasi melalui aktivitas musik komunitas.
Keberlanjutan kegiatan telah dirancang melalui beberapa strategi, di antaranya penguatan latihan rutin kelompok musik binaan di balai desa, pengembangan studio musik sederhana berbasis komunitas, serta pendampingan lanjutan dalam aspek manajemen usaha dan pemasaran digital. Tim pengabdian juga mendorong integrasi kelompok musik sebagai bagian dari atraksi desa wisata, sehingga kelompok musik dapat tampil pada agenda desa maupun event pariwisata. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan dapat berkembang menjadi model pemberdayaan desa berbasis musik yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui pelatihan dan pendidikan musik komunitas, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan ekonomi kreatif berbasis musik, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pelestarian budaya dan penguatan komunitas desa. Program ini didanai oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) melalui skema Equity Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sebagai dukungan nyata terhadap peningkatan kapasitas masyarakat dan pembangunan berkelanjutan berbasis pendidikan, seni, dan inovasi.
Posting Komentar