Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa penurunan tekanan eksternal menjadi faktor utama di balik penguatan rupiah hari ini. "Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat tipis di kisaran Rp17.050 - Rp17.100 dipengaruhi oleh meredanya tekanan eksternal setelah (kesepakatan) jeda (perang) dua minggu (antara AS dengan Iran). (Ini) mendorong harga minyak dan index dollar turun," ucapnya seperti dilansir Antara di Jakarta, Rabu.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran yang berlaku selama dua minggu. Kesepakatan yang difasilitasi oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Asim Munir ini juga menyertakan rencana pembukaan Selat Hormuz. Pemerintah Iran dijadwalkan memulai pembicaraan dengan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, pada Jumat mendatang.
Meskipun demikian, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa gencatan senjata tidak mengakhiri konflik secara permanen dan Iran akan merespons dengan kekuatan penuh jika terjadi pelanggaran sekecil apa pun dari pihak Amerika selama perundingan.
Sentimen Domestik dan Proyeksi Defisit Anggaran
Di sisi domestik, pelaku pasar terus memantau isu-isu fiskal pemerintah, termasuk tekanan pada pengeluaran Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan tren penurunan rasio pajak. "Tekanan terbesar pada pengeluaran BBM (Bahan Bakar Minyak) subsidi dan tax ratio dengan tren penurunan, dimana jika mengacu pada defisit anggaran triwulan 1 yang sudah mendekati 1 persen, dikhawatirkan defisit anggaran tembus 3 persen tahun ini," ungkap Rully. Rilis data cadangan devisa oleh Bank Indonesia yang dijadwalkan siang ini juga turut menjadi perhatian.
Sumber : antara

Posting Komentar