PARFI '56 Ingatkan Pentingnya Kehati-hatian dalam Perancangan Judul Film


IDNEWSUPDATE.COM - Persoalan mengenai pemilihan judul dan materi promosi film menjadi sorotan, dengan Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI '56) Marcella Zalianty menyerukan perlunya kehati-hatian. Hal ini mencuat menyusul kontroversi yang timbul akibat baliho film berjudul "Aku Harus Mati," yang menuai kritik dari masyarakat dan pakar kesehatan karena berpotensi memberikan dampak negatif bagi individu dengan kerentanan psikologis.

"Setiap konsep kreatif pasti ada dampaknya, dan itu sebaiknya juga kita pikirkan," ujar Marcella di Jakarta, Senin (6/4/2026). 

Ia menekankan pentingnya ketelitian dalam pemilihan kata, mengingat potensi dampaknya yang melampaui aspek komersial hingga ranah psikologis audiens.

Polemik seputar poster promosi film "Aku Harus Mati" ini diharapkan menjadi momentum pembelajaran bagi para pelaku industri kreatif. Marcella menilai, kejadian ini menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya diksi dan strategi komunikasi publik yang lebih bijak.

"Ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bagaimana memilih diksi dan strategi komunikasi yang lebih baik," tambahnya. Ia berpendapat bahwa dalam kasus spesifik ini, pembuat film dapat mengeksplorasi alternatif judul yang lebih aman tanpa harus menghentikan proses kreatif film tersebut.

Menjaga Keseimbangan Kebebasan Berekspresi dan Tanggung Jawab Sosial

Marcella Zalianty lebih lanjut menegaskan urgensi menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dalam industri perfilman dengan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. "Tidak ada benar atau salah, tapi lebih kepada kepekaan sosial yang perlu dipertimbangkan," jelasnya.

Ia menyarankan perlunya mekanisme peninjauan konten untuk memastikan materi promosi yang disajikan kepada publik aman dan tidak menimbulkan keresahan. Mengenai penilaian sebuah karya film, Marcella mengingatkan bahwa hal tersebut seharusnya tidak hanya didasarkan pada judul atau materi promosi semata, terutama jika belum ditonton.

"Kita juga tidak bisa langsung menilai filmnya layak atau tidak, apalagi kalau belum menonton," ungkapnya. Ia berharap persoalan ini dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk mencegah terulangnya kerugian di masa mendatang, baik dalam sistem maupun kebijakan industri kreatif.

Sumber : Antara

0/Post a Comment/Comments

Ads