Sejak diterbitkannya keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 mengenai pencantuman label gizi, respons positif telah diterima baik dari masyarakat maupun pelaku industri. "Bukan hanya dari masyarakat saja, tapi ada pengelola mall juga yang sudah datang, yang 'kita ingin mengimplementasikan'. Ada juga chain restoran yang sudah mau mengimplementasikan. Dan mereka juga pengen mendapatkan image bahwa mereka mau memberikan makanan minuman yang sehat," ujar Menkes dalam sebuah podcast bersama ANTARA di Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Efektivitas Nutri-level dalam Membentuk Perilaku Konsumsi
Menurut Menkes, upaya mendorong gaya hidup sehat tidak dapat dilakukan secara paksa. Keberhasilan adopsi gaya hidup sehat hanya dapat tercapai apabila masyarakat Indonesia secara luas menyadari pentingnya hidup sehat demi kelangsungan produktivitas dan kualitas penuaan. Menkes memberikan analogi program lari untuk menurunkan tekanan darah yang kurang berhasil dibandingkan antusiasme masyarakat mengikuti lari saat Car Free Day (CFD), yang dianggap lebih menarik secara sosial.
Oleh karena itu, pada tahap awal, Nutri-level akan difokuskan sebagai sarana imbauan dan edukasi. Menkes menambahkan bahwa edukasi mengenai pilihan makanan dan minuman sehat melalui Nutri-level telah terbukti efektif berdasarkan implementasinya di berbagai negara. Oleh sebab itu, Indonesia mengadopsi sistem ini sebagai salah satu upaya penjagaan kesehatan masyarakat.
Sejumlah negara yang telah mengadopsi Nutri-level atau Nutri-score antara lain Prancis, Singapura, Belgia, Swiss, dan beberapa negara di Eropa. Dengan desain yang sederhana dan mudah dipahami, Menkes berharap Nutri-level dapat membentuk perilaku masyarakat yang lebih baik dalam memilih makanan dan minuman, serta mendorong industri untuk menyediakan pilihan yang lebih sehat.
Pentingnya pemahaman masyarakat dan industri terhadap penerapan label gizi ini ditekankan mengingat tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia. "Yang mengagetkan saya sebagai (orang) Kementerian Kesehatan adalah ternyata penyebab wafatnya manusia Indonesia itu paling banyak karena penyakit stroke, catatan kita ada 300 ribu per tahun," ungkap Menkes Budi. Angka ini disusul oleh penyakit jantung (250 ribu per tahun), kanker, dan sakit ginjal (sekitar 50.000-60.000 per tahun). "Juga biaya BPJS-nya besar. Jadi jantung itu kalau nggak salah Rp17 triliun setahun," tambahnya.
Sumber : antara

Posting Komentar