Tekanan ekonomi ini terjadi akibat gangguan distribusi energi global yang disebabkan oleh ketegangan di Timur Tengah, yang berujung pada kenaikan harga LPG secara signifikan. Ketergantungan Filipina pada impor energi membuat dampak tersebut langsung terasa oleh pelaku usaha kecil.
Salah satu pedagang, Eric Garcia, terpaksa melakukan penyesuaian drastis. Ia bahkan mengatur tingkat api kompor ke level terendah saat memasak hidangan khas Filipina, pares, demi menghemat penggunaan gas. Kenaikan biaya bahan bakar juga memaksanya untuk menaikkan harga jual produknya.
"Saya hanya menghasilkan 1.500 peso (per hari), karena sisanya habis untuk LPG," ujar Eric, mengutip dari The Straits Times, Senin, 13 April 2026. Kenaikan harga tabung gas LPG ukuran 11 kilogram dari 870 peso menjadi 1.600 peso membuat pendapatan hariannya tergerus hingga seperempatnya.
Kondisi Pasar yang Terpuruk Akibat Kenaikan Harga LPG
Fenomena ini tidak hanya dialami oleh Eric seorang. Supervisor toko gas, Carlo Manalad, melaporkan bahwa kondisi pasar secara keseluruhan ikut terdampak. "Ini adalah harga LPG tertinggi yang pernah saya lihat sejak saya mulai di sini," tuturnya.
Berbeda dengan distributor, para pedagang kecil tidak memiliki banyak ruang untuk menaikkan harga secara bebas. Persaingan yang ketat membuat mereka harus menahan kenaikan harga agar tidak kehilangan pelanggan. Ronilo Titom, seorang pedagang lain, mengaku telah kehilangan banyak pembeli sejak konflik di Timur Tengah pecah.
"Jika kami menaikkan harga, pelanggan kami akan membeli dari warung lain," keluhnya. Ia menambahkan bahwa banyak pelanggannya kini memilih untuk membawa bekal dari rumah guna menghemat pengeluaran.
Dampak kenaikan harga energi juga dirasakan oleh konsumen, yang mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat akibat inflasi. Pedagang kentang goreng, John Mark Abella, mengobservasi penurunan jumlah pembeli. "Saya pikir kami memiliki lebih sedikit pelanggan… karena mereka membatasi pengeluaran karena tingginya harga bahan bakar dan makanan," jelasnya.
Seorang pekerja call center, Sam Natividad, mengakui bahwa ia harus lebih berhemat. "Saya membatasi pengeluaran karena saya juga harus membayar tagihan di rumah. Saya tidak punya anggaran besar untuk makanan di sini," katanya.
Posting Komentar