Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 1,07% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,32% terhadap inflasi nasional.
Pangan Jadi Pemicu Utama Inflasi
Sejumlah komoditas pangan yang harganya merangkak naik dan signifikan mempengaruhi angka inflasi antara lain ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, serta daging sapi. Kenaikan harga komoditas-komoditas ini sangat terasa dampaknya bagi rumah tangga.
Dilihat dari komponennya, inflasi Maret 2026 didominasi oleh komponen harga bergejolak atau volatile food yang memberikan andil sebesar 0,27%. Komoditas utama yang masuk dalam komponen ini meliputi daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi.
Sementara itu, komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 0,08%, yang dipicu oleh kenaikan harga minyak goreng dan nasi dengan lauk. Komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices menyumbang andil 0,06%, didorong oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan antarkota, serta sigaret kretek mesin (SKM). Di sisi lain, terdapat komoditas yang menjadi penahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi, yakni tarif angkutan udara dan emas perhiasan yang masing-masing tercatat sebesar 0,03%.
BPS juga menyoroti tren inflasi pada kelompok transportasi di tengah momentum Ramadan dan Idul Fitri. Berdasarkan data historis lima tahun terakhir, tren inflasi selalu terjadi pada periode ini, kecuali pada tahun 2025. Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah bensin dan tarif angkutan antarkota dengan andil inflasi terhadap umum masing-masing 0,04% dan 0,03%. Menariknya, tarif angkutan udara justru menjadi peredam inflasi pada kelompok transportasi dengan memberikan andil deflasi terhadap angka umum sebesar 0,03%.

Posting Komentar