Perang Iran Berpotensi Memicu Krisis Stagflasi Global



IDNEWSUPDATE.COM -  
Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran serius yang dapat menyeret ekonomi global ke jurang stagflasi. Kondisi ini terjadi ketika inflasi yang tinggi berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat, terutama dipicu oleh lonjakan harga energi dan gangguan perdagangan.

Para ekonom menyoroti risiko utama yang bersumber dari potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20% minyak dunia. Blokade di jalur ini berpotensi menciptakan guncangan harga minyak yang tajam, mengingatkan pada krisis era 1970-an yang berdampak luas pada biaya energi dan harga barang secara umum.

Kecemasan pasar tercermin pada harga minyak mentah Brent yang telah menembus level US$ 79-80 per barel. Angka ini merupakan lonjakan signifikan dari posisi awal tahun yang berada di kisaran US$ 61 per barel, menunjukkan kekhawatiran investor terhadap keamanan pasokan energi global.

Kepala Penelitian Risiko Politik di Coface, Ruben Nizard, menegaskan bahwa kombinasi biaya energi yang melonjak dan pertumbuhan ekonomi global yang lemah dapat menjadi kenyataan stagflasi. "Skenario di mana biaya energi meningkat tajam sementara pertumbuhan ekonomi global tetap lemah berpotensi menjadi realitas stagflasi," ujarnya. "Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat menimbulkan masalah lain dengan menaikkan biaya pengiriman maritim dan mendorong inflasi lebih jauh," tambah Nizard.

Dampak Meluas di Luar Sektor Energi

Tekanan inflasi tidak hanya bersumber dari minyak. Harga gas acuan Eropa juga melonjak lebih dari 40% setelah serangan terhadap fasilitas energi di Qatar memaksa penghentian produksi. Selain itu, para ekonom di ING mencatat bahwa konflik ini dapat menjadi "guncangan terhadap perdagangan pada saat yang paling buruk" akibat berbagai hambatan rantai pasok dan logistik.

Efek dari ketegangan geopolitik ini juga merambat ke pasar keuangan. Imbal hasil obligasi pemerintah di beberapa negara utama terpantau naik, mencerminkan keraguan investor terhadap prospek ekonomi. Pada saat yang sama, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

Jika eskalasi konflik berlanjut, kombinasi dari biaya energi tinggi, gangguan logistik, dan penurunan kepercayaan bisnis dapat menghambat pertumbuhan global. Dalam skenario terburuk, dunia berisiko menghadapi resesi ringan yang disertai inflasi tinggi, yang merupakan ciri khas dari periode stagflasi.

0/Post a Comment/Comments

Ads