
IDNEWSUPDATE- Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Piprim Basarah Yanuarso mengidentifikasi keraguan masyarakat terhadap imunisasi sebagai biang keladi lonjakan kasus campak di Indonesia. Fenomena ini berakar pada penurunan cakupan imunisasi anak yang signifikan, membuka celah bagi penyebaran virus yang sangat menular ini.
Campak, penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyebar melalui percikan air liur dan udara, membutuhkan tingkat cakupan imunisasi yang sangat tinggi untuk mengendalikan penularannya. Menurut Dr. Piprim, target cakupan vaksinasi campak seharusnya melampaui 95%. Namun, penurunan sekecil apapun dari angka tersebut, misalnya menjadi 80%, sudah cukup untuk memicu kejadian luar biasa (KLB) campak.
Penurunan Drastis Cakupan Imunisasi: Ancaman Nyata Kesehatan Anak
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan. Pada Desember 2025, cakupan imunisasi di Indonesia baru mencapai 68,6% dari target 80%, sebuah penurunan tajam dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang mencapai 87,7%. Penurunan ini menciptakan kesenjangan kekebalan kelompok (herd immunity) yang vital, membuat anak-anak lebih rentan terhadap serangan virus campak.
Dr. Piprim menyoroti bahwa tren penurunan cakupan imunisasi ini tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Terdapat beberapa daerah yang secara konsisten menunjukkan angka cakupan imunisasi yang sangat rendah, menjadikannya kantong-kantong risiko tinggi munculnya kasus campak. Ia menyebutkan beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Barat, Riau, serta daerah Tapal Kuda Jawa Timur, Madura, dan Sumenep sebagai contoh daerah dengan tantangan cakupan imunisasi yang persisten.
Lebih mencengangkan lagi, Dr. Piprim mengungkapkan adanya wilayah dengan cakupan imunisasi yang sangat jauh dari target nasional. "Pada saat pin MR tahun lalu pun itu ada yang sampai 11 persen aja. Padahal targetnya 90 persen. Kita bayangkan ya. Jadi betul-betul ini sangat memprihatinkan," ujarnya.
Campak: Penyakit yang Bisa Dicegah, Namun Terkendala Keraguan
Ironisnya, campak adalah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah sepenuhnya. Vaksin campak, yang diproduksi oleh Biofarma dan tersedia secara gratis di puskesmas, telah terbukti efektif dan mudah diakses oleh masyarakat. Namun, stigma dan keraguan terhadap vaksinasi masih menjadi hambatan besar.
Keraguan ini seringkali dipicu oleh misinformasi dan disinformasi yang beredar di masyarakat. Hal ini menciptakan paradox di mana solusi kesehatan yang efektif dan terjangkau justru ditolak karena ketidakpercayaan. "Untuk sesuatu yang sebetulnya bisa dicegah, vaksinnya ada, buatan Biofarma dan gratis di puskesmas. Tapi masyarakat masih ragu-ragu untuk menggunakannya," tegas Dr. Piprim.
Menghadapi situasi ini, Dr. Piprim menyerukan kolaborasi dari semua pihak untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran dan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Upaya ini sangat krusial demi memastikan anak-anak Indonesia terlindungi dari ancaman campak dan penyakit menular lainnya yang sebenarnya dapat dicegah.
Posting Komentar