Perolehan tersebut baru setara dengan 6,7% dari total target yang dicanangkan dalam APBN 2026 sebesar Rp 336 triliun. Pelemahan kinerja penerimaan ini terjadi secara merata di seluruh komponennya, mulai dari cukai, bea masuk, hingga bea keluar.
Penerimaan cukai tercatat sebesar Rp 17,5 triliun, atau terkontraksi 12,4% secara tahunan. Salah satu faktor utama yang memengaruhinya adalah perlambatan laju produksi pada akhir tahun 2025.
Sementara itu, komponen bea keluar mengalami penurunan paling dalam, yakni anjlok hingga 41,6% dengan realisasi hanya Rp 1,4 triliun. Lesunya setoran ini disebabkan oleh pelemahan harga komoditas ekspor andalan Indonesia, terutama minyak kelapa sawit mentah (CPO).
Upaya Optimalisasi Pengawasan Kepabeanan
Di sisi lain, setoran dari bea masuk juga mengalami kontraksi sebesar 4,4% menjadi Rp 3,7 triliun pada Januari 2026. Penurunan ini dipengaruhi oleh meningkatnya utilisasi fasilitas perdagangan internasional seperti Free Trade Agreement (FTA) dan tarif Most Favoured Nation (MFN) 0%, serta adanya restitusi.
Menanggapi kondisi ini, Suahasil menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong kinerja jajarannya untuk mencapai target. "Tim Bea Cukai terus melakukan optimalisasi dan pengawasan kepabeanan dan cukai. Diharapkan dilakukan terus ke depannya," kata Suahasil.
Sumber : cnbcindonesia.com

Posting Komentar