
IDNEWSUPDATE.COM Film "Pelangi di Mars" dijadwalkan menghiasi layar bioskop pada momentum Lebaran 2026. Sutradara Upie Guava menyatakan kebanggaannya atas jadwal tayang yang berdekatan dengan perayaan hari besar tersebut, mengingat Lebaran merupakan waktu krusial dalam industri perfilman nasional.
Upie Guava, yang dikenal luas atas kiprahnya menggarap video klip bagi sejumlah band ternama, mengungkapkan rasa tak terdugannya ketika film layar lebarnya mendapatkan slot tayang spesial tersebut. Ia mengaku momen ini menjadi Lebaran paling membanggakan dalam hidupnya.
"Jadi yang pasti ini Lebaran ter-flexing gue seumur hidup. Kami tuh enggak menyangka bakal naik tayang Lebaran. Kayaknya sudah enggak mungkin lah, karena tidak ada alasan logis yang memvalidasi bahwa kami akan dapat," ujar Upie Guava seperti dilansir Antara, Jumat (13/2/2026).
Ia pun berpesan kepada seluruh kru film agar turut bangga dan membawa pencapaian ini saat berkumpul dengan keluarga saat Idul Fitri. Optimisme tim semakin terangkat dengan melihat kesuksesan film animasi sebelumnya yang berhasil menarik 10 juta penonton saat tayang perdana di hari Lebaran.
Inovasi Perfilman Indonesia Lewat Kolaborasi Format
"Pelangi di Mars" tidak hanya menawarkan suguhan animasi semata, tetapi juga memadukannya dengan elemen aksi langsung atau live action. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas talenta perfilman Indonesia mampu bersaing dengan studio-studio besar dunia seperti Disney atau Pixar yang juga telah mengintegrasikan kedua format tersebut.
Perbedaan mendasar yang ditekankan Upie adalah bahwa seluruh aspek produksi "Pelangi di Mars" digarap sepenuhnya oleh para profesional di dalam negeri. "Gue yang paling senang itu adalah animasinya dikerjakan oleh teman-teman kita, orang-orang Indonesia. Jadi dari IP ini, kita sudah kerjakan dengan orang-orang Indonesia, dari berbagai macam latar belakang," kata Upie.
Ia menambahkan, kolaborasi ini menjadi ilustrasi nyata bagaimana sineas Indonesia dapat bersatu dengan para pekerja film konvensional. "Kalau kita mengerjakan bareng-bareng, jadi sebuah semangat baru yang bikin hasilnya terasa berbeda. Jadi jangan merasa inferior (rendah diri). Artinya, kita tidak harus selalu berkiblat ke Korea atau Amerika," tegasnya.
Film ini juga dirancang untuk menjadi kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang berkelanjutan. Potensi karakter film ini untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan seperti komik, pakaian, tas, hingga figur aksi sangat terbuka, asalkan mendapat respons positif dari penonton.
Upie mengibaratkan proses pembuatan "Pelangi di Mars" seperti menanam pohon untuk masa depan, yang juga mengandung pesan lingkungan tentang pencegahan krisis air. "Pohon itu kita tanam hari ini, sejauh-jauhnya nanti anak-cucu kita bisa makan buahnya," ujarnya.
Produser Dendi Reynando membenarkan bahwa "Pelangi di Mars" diproyeksikan lebih dari sekadar sebuah film tunggal. Ia melihat potensi besar untuk mengembangkan IP ini menjadi dua hingga lima proyek berbeda di masa mendatang. "Jadi harapannya ini lebih dari sekadar film. Setelah ditonton masyarakat luas, kami berharap karakter yang ada di film ini bisa hidup dalam berbagai bentuk produk, baik itu baju, tas, maupun boneka. Seperti IP-IP yang kita kenal selama ini. Mungkin kita bisa lihat anak-anak kita ingin menonton filmnya dan juga membeli bonekanya," tutur Dendi.
Sumber : Antara
Posting Komentar