Hindari Penyusutan Otot Sejak Usia 30-an dengan Tips Ini




IDNEWSUPDATE.COM -  Sarkopenia, kondisi yang ditandai dengan penurunan massa, kekuatan, dan fungsi otot, ternyata dapat dimulai sejak usia 30 tahun. Proses penuaan otot ini bersifat alami namun kecepatannya sangat dipengaruhi oleh gaya hidup individu.

Dokter spesialis penyakit dalam, Vardian Mahardika, menjelaskan bahwa penurunan massa otot dapat mencapai 3-8 persen setiap dekade setelah usia 30 tahun, bahkan ketika seseorang tidak aktif secara fisik.

Sarkopenia merupakan kehilangan massa otot yang progresif. Meskipun sering dikaitkan dengan penuaan pada lansia, kondisi ini juga dapat muncul lebih awal akibat kekurangan gizi, minimnya aktivitas fisik, atau adanya penyakit tertentu.

Otot memiliki peran krusial bagi tubuh, bukan hanya sebagai alat gerak. Otot berperan penting dalam metabolisme tubuh, berfungsi sebagai penyimpan glukosa utama. Semakin besar massa otot, semakin efektif gula diserap oleh otot, mencegah penumpukannya menjadi lemak.

Pentingnya Membangun dan Menjaga Massa Otot

"Otot juga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan hormon seperti testosteron dan estrogen, serta membantu meredakan inflamasi dalam tubuh," ujar Vardian Mahardika dalam sebuah acara kesehatan. Otot yang kuat memberikan dukungan optimal bagi sendi dan tulang, sehingga mengurangi risiko cedera, bahkan saat melakukan aktivitas fisik intens. Oleh karena itu, membangun massa otot dianggap sebagai investasi kesehatan jangka panjang.

Gejala sarkopenia yang seringkali berkembang perlahan meliputi:

  • Kelemahan fisik, seperti kesulitan mengangkat benda berat atau naik tangga.
  • Penurunan stamina dan mudah lelah.
  • Otot yang terlihat mengecil.
  • Gangguan keseimbangan yang meningkatkan risiko jatuh.

Selain penuaan alami, beberapa faktor dapat mempercepat sarkopenia, di antaranya adalah gaya hidup sedentari, malnutrisi (terutama kurang protein dan kalori), serta penyakit kronis seperti penyakit ginjal, jantung, atau HIV/AIDS.

Diagnosis sarkopenia dapat dilakukan melalui kuesioner, pengukuran lingkar betis, tes kekuatan genggaman tangan, atau pemeriksaan lanjutan seperti DEXA atau BIA. Pencegahan dan penanganan utamanya meliputi latihan kekuatan (resistance training) dan konsumsi protein yang cukup. Memulai latihan kekuatan dan memastikan asupan protein memadai sejak dini sangat penting untuk mencegah disabilitas dan menjaga kualitas hidup yang optimal di usia senja.


0/Post a Comment/Comments

Ads