Keputusan berinvestasi emas sebaiknya tidak hanya didasari euforia semata, melainkan harus mempertimbangkan tujuan keuangan dan potensi risikonya secara matang.
Perencana Keuangan Budi Rahardjo dari OneShildt menjelaskan bahwa lonjakan minat terhadap emas saat ini wajar terjadi, mengingat kinerjanya yang cenderung stabil dalam beberapa tahun terakhir, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Ditambah lagi ada persepsi yang tumbuh di masyarakat seolah-olah bahwa emas adalah instrumen investasi teraman padahal setiap investasi pasti mengandung risiko," ujar Budi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/1).
Emas, yang sering dianggap sebagai safe haven, memang menarik perhatian di tengah kondisi ekonomi dan geopolitik yang tidak menentu. Namun, penting untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena tren.
Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan agar investasi emas Anda lebih terencana dan terhindar dari rasa takut ketinggalan momen:
Pahami Tujuan, Potensi, dan Risikonya
Sebelum membeli emas, tentukanlah tujuan investasi Anda. Apakah untuk diversifikasi portofolio, mencapai tujuan keuangan tertentu, atau sekadar sebagai lindung nilai saat krisis ekonomi? Kenali pula potensi keuntungan dan risiko yang melekat pada instrumen ini.
Siapkan Fondasi Keuangan yang Kuat
Pastikan kondisi keuangan Anda stabil sebelum berinvestasi emas. Miliki dana darurat yang memadai, perlindungan asuransi yang sesuai, dan arus kas yang aman. Emas sebaiknya menjadi pelengkap portofolio, bukan satu-satunya instrumen untuk mencapai tujuan finansial.
Fokus pada Investasi Jangka Panjang
Emas cenderung berfluktuasi dalam jangka pendek, namun berpotensi melindungi nilai uang dari inflasi dalam jangka panjang. Pertimbangkan selisih harga beli dan jual kembali (buyback) yang biasanya sekitar 10 persen saat Anda berencana merealisasikan keuntungan.
Pilih Emas Batangan Dibanding Perhiasan
Emas batangan memiliki nilai yang lebih stabil karena mengikuti harga pasar secara langsung. Berbeda dengan emas perhiasan yang nilainya bisa dipengaruhi faktor subjektif dan biaya tambahan seperti biaya peleburan dan pencetakan ulang saat dijual kembali.

Posting Komentar