Pemerintah telah mengantisipasi berbagai skenario kenaikan harga minyak global melalui perhitungan matang di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Asumsi Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan dalam APBN 2026 adalah sebesar US$70 per barel
Kementerian Keuangan telah menyiapkan perhitungan alternatif jika harga minyak dunia melonjak hingga US$80, US$90, atau bahkan mencapai US$100 per barel. Penghitungan ini didasarkan pada rata-rata harga minyak dalam periode tertentu, bukan pergerakan harian.
Dengan asumsi harga rata-rata minyak mentah dunia mencapai US$100 per barel sepanjang tahun 2026, Purbaya menyatakan defisit APBN masih dapat dikendalikan di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu sekitar 2,92 persen. "Jadi sepanjang tahun ini dengan harga rata-rata (minyak mentah dunia) US$100 aman," ujar Purbaya.
Pemerintah menegaskan kesiapannya untuk menjadi bantalan fiskal, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir mengenai potensi kenaikan harga BBM bersubsidi. "Jadi masyarakat enggak usah khawatir, kita sudah hitung dengan exercise seperti itu," ucap Purbaya.
Lebih lanjut, Purbaya menekankan komitmen pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun. "Kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun untuk BBM subsidi dengan asumsi harga minyak US$100 per barel sampai akhir tahun sudah dihitung. Jadi masyarakat tidak usah ribut, tidak usah takut. Kita sudah hitung," ujar Purbaya.

Posting Komentar